Berita dan Info Pendidikan

Filosofi celengan ayam

Filosofi celengan ayam

Sebelumnya saya ingin bertanya,ada nggak sih di antara kalian yang di zaman modern ini masih memiliki celengan (tempat menabung), entah yang terbuat dari plastik atau tanah liat (lempung)?.

Waktu kecil tentu kita sudah diajarkan orang tua untuk membeli celengan dan menyisihkan sisa uang saku di celengan, entah 100 perak atau 500 perak yang penting masuk ke dalam celengan. Ada perasaan bahagia ketika celengan kita semakin berat, berat karena isi di dalamnya kebanyakan koin.

Kalau saya sedang ingin membeli sesuatu tetapi tidak mungkin minta kepada orang tua, celengan adalah tempat “mengadu”. Ada perasaan berat kala itu jika celengan harus dibuka/dipecahkan, tetapi karena kebutuhan mendesak alhasil saya mengorek-ngorek isinya dari lubang di atas dan mendapatkan beberapa koin, lumayan.

Filosofi kesederhanaan celengan tanah liat yang lain adalah bentuk dan cat-nya. Hal yang mungkin tidak di dapatkan pada celengan kaleng atau plastik. Tangan-tangan pembuat celengan tanah liat adalah tangan yang special membentuk detail paruh si ayam atau membentuk tubuh katak dan mengecat bagian tersebut dengan telaten dan sabar, hingga mengeringkannya di terik matahari sampai bentuk bermacam-macam hewan sempurna tampilannya.

Alat- alat tradisional yang mungkin masih digunakkan turun-temurun semakin menguatkan bahwa celengan tanah liat adalah simbol kesederhanaan. Ia ada setiap detiknya bagi kita, ia tidak akan pernah mengenakan biaya administrasi kepada kita bahkan ia rela menyerahkan “tubuhnya” dihancurkan untuk kemudian diambil isinya.

Terakhir, percaya atau tidak kesederhanaan sebuah celengan dapat memberikan kita semacam sugesti agar kita giat mengisinya karena dengan cara itulah, sebuah celengan merasa ia diperhatikan dan dirawat.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *